Bisnis Fashion Sepi Akibat Pandemi, Desainer Eema Assegaf Alih Profesi Usaha Kuliner

 

Jakarta, MF – Masa pandemi tak membuat desainer sekaligus pengusaha Eema Assegaf kehilangan kreativitasnya. Meski harus menunda beberapa gelaran fashion show termasuk fashion show tunggal dalam rangka 10 tahun berkarir sebagai desainer, Eema tak mau berdiam diri meratapi keadaan.

Meski mengalami banyak kerugian materi, pemilik butik Jemima House ini tak mau memecat para karyawannya. Karenanya dia terus memutar otak dan menggali kreativitas untuk tetap bisa berkarya dan menghasilkan uang.

Selain disibukkan dengan membuat ide-ide baru motif, desain dan lainnya, Eema juga membuka kursus desain dan coaching clinic untuk anak-anak remaja yang memiliki minat tinggi di bidang fesyen.

“Niat saya memang ingin buka sekolah desain buat yang nggak mampu. Sekolah desain itu kan mahal, nggak semuanya mampu. Nanti sistemnya subsidi silang. Tapi baru ingin mencoba ya,” ungkap Eema Assegaf saat berbincang di Butik Jemima House di Jalan Jati Padang Raya, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9/2020).

Eema juga menerima siswa dan siswi untuk magang. Dia pun tak sungkan untuk berbagi pengetahuan kepada para siswa siswi yang berminat di dunia fesyen dan desain.

“Kalau kita diam aja, rasanya gak enak banget. Jadi harus tetap aktif dan kreatif di masa pandemi ini. Kebetulan ada yang minat kursus dan magang, kita terbuka dan coba share pengetahuan ke anak-anak ini,” kata Eema Assegaf.

Tak hanya itu, Eema juga mengembangkan usaha catering yang diberi nama Dapur 69, serta yang terbaru yakni membuka cafe kekinian bernama 69StreetCafé yang berada persis berdampingan dengan Jemima House Butik.

Diakui Eema, cafe miliknya ini sangat cocok untuk tempat anak muda, orang kantoran maupun keluarga yang sekedar kongkow santai, berdiskusi, meeting, acara keluarga, maupun acara lainnya.

“Kemarin pas pandemi dan PSBB yang ketat, kita benar-benar close. Nah, sekarang aktif kembali. Dan Alhamdulillah karyawanku tetap aktif di cafe ini. Nggak ada yang aku cut ya. Alhamdulillah banget,” ungkap Eema Assegaf.

Meski ramai pengunjung, terutama pada saat akhir pekan, cafe yang buka dari jam 16.00 WIB sampai jam 23.00 WIB ini tetap menjalankan protokol kesehatan.

“Kita buka, tapi tetap perhatikan protokol kesehatan. Setiap yang datang wajib untuk mematuhi protokol kesehatan. Nggak pakai masker, nggak boleh masuk. Cuci tangan sampai hand sanitizer juga kita siapkan,” jelas Eema Assegaf.

69StreetCafe mengusung konsep cafe outdoor seperti garden dengan diiringi live musik dan dihiasi lampu-lampu taman yang cantik. Sesuai namanya, 69StreetCafe berlokasi persis di pinggir jalan raya, sehingga mudah untuk dijangkau. Cafe yang terdiri dari bangunan dua lantai ini, bisa menampung 100-an pelanggan.

69StreetCafe menawarkan berbagai varian menu minuman, makanan ringan dan juga makanan berat.

“Kopi bisa, makanan ringan lainnya juga ada, lengkaplah. Sop buntut juga ada. Makanya, kita terus kreatif dengan apa yang kita punya. Biar usaha tetap jalan dalam situasi seperti saat ini,” jelas Eema Assegaf.

Dengan harga berkisar Rp 30-50 ribuan, 69StreetCafe juga menghadirkan menu unggulan lainnya, seperti Nasi Goreng Kambing, Nasi Cumi, Sop Kambing, Roti Maryam, Waffle Ice Cream, French Fries, Nachos, Kopi Susu Gula Aren, Ice Coffee Latte, Jus Kurma, dan masih banyak menu unggulan lainnya.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *