Soal Penolakan Film “212 The Power Of Love” di Beberapa Daerah, Ini Kata Pemainnya

Jakarta, MF.COM – Aksi 212 yang dilakukan jutaan umat muslim pada Desember 2016 lalu, telah diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Namun, Film ini sepertinya mengalami banyak hambatan. Mulai dari perizinan lokasi syuting, jatah layar yang sedikit, sampai mendapatkan penolakan tayang di beberapa daerah di Indonesia.

Salah satu daerah yang menolak untuk ditayangkan film ini adalah Manado, Palangkaraya, dan beberapa daerah lain lagi. Banyak dari mereka yang menolak film ini, karena menduga mengandung unsur politik dan paham radikal.

Mengetahui hal tersebut, salah satu aktor utama dari film ini, yaitu Fauzi Baadilla menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar, karena kondisi Tanah Air saat ini sedang memanas. “Iya, film ini memang ditolak di berbagai daerah mungkin, karena hawa-hawanya di Indonesia yang agak-agak panas. Banyak perbedaan banyak kejadian, banyak kepentingan. Jadi, ya mungkin terkena imbasnya. Tetapi, menurut saya pribadi itu wajar-wajar saja, karena semua berbeda dan enggak bisa dipaksa juga,” kata Fauzi, usai nonton bareng film 212 The Power of Love di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Kabarnya, bentuk penolakannya pun tak main-main, hal tersebut dikonfirmasi oleh Fauzi Baadilla. Dia menyebutkan, ada surat edaran yang melarang menonton film tersebut. “Pencekalannya ada yang menolak ditayangkan, ada yang nonton tapi dikawal. Saya sempat lihat juga di awal terus berita-beritanya ada surat edaran dari pihak-pihak mana,” paparnya.

Fauzi juga tak memungkiri kejadian mengenai adanya teror bom di sejumlah daerah menjadi salah satu dampak pada filmnya tersebut. “Ya imbasnya mungkin sana-sini kita kena. Saya sih di film ini latar belakangnya persatuan dan cinta. Jadi ya wajar orang agak-agak ‘alergi’ atau imajinasinya agak berlebihan,” tuturnya.

Menurutnya, penolakan film 212 The Power of Love ini sebagai suatu hal wajar dalam dunia perfilman Tanah Air. “Jadi yang kita tegaskan, kita sudah lulus lembaga sensor film, banyak pihak juga yang suka sama film ini, dan kemungkinan besar yang nolak mungkin dia ‘alergi’ dari awal,” kata pria berusia 38 tahun ini. “Mungkin lebih kenapa kita harus nonton. Pertama film ini ada saya dan menggambarkan dengan jelas islam agama yg penuh hikmat dan persatukan dan memberikan solusi semua permasalahan di dunia ini,” tambah Hamas Syahid.

“Saya selalu menekankan ke temen-temen saya yang belum menonton. Berulang kali saya bilang film ini ditujukan untuk semunya bukan untuk agama tertentu dan golongan tertentu saja. Semua harus nonton film ini, banyak banget pesan positif yang disampaikan. Jadi nonton dulu deh,” sambung Adhin Abdul Hakim.

Diketahui film karya Sutradara Jastis Arimba itu sudah tayang di beberapa bioskop Tanah Air sejak 9 Mei 2018 lalu. Dalam film ini, aktor Fauzi Baadilla didampingi oleh beberapa artis berbakat lainnya seperti Adhin Abdul Hakim, Asma Nadia, Ustadz Erick Yusuf, Hamas Syahid, Ronny Dozer, dan Meyda Sefira. (Jeh)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *