Sasar Gaya Hidup Generasi Milenial, Romy M Eddy Perkenalkan Kain Ulos Ramah Lingkungan

Jakarta, MF – Ketua Dekranasda Kabupaten Dairi, Romy M Eddy yang juga isteri dari Bupati Kabupaten Dairi, beberapa waktu lalu memperkenalkan kain ulos hasil penenun Desa Silalahi, Sumatera Utara, dalam ajang Eco Fashion Indonesia 2019, di Belgia Antwerpen, Belgia.

Menurut Romy, respons masyarakat Eropa terhadap kain ulos hasil penenun Desa Silalahi tersebut sangat positif. “Ya, kita sudah sempat fashion show ke Belgia. Respons-nya sangat bagus, kami bawa brand Tenun Silahi dan kami melakukan fashion show di sana,” kata Romy M Eddy saat ditemui di Epiwalk Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (3/11/2019).

Tak hanya itu, rencananya ia juga akan membuka pasar untuk kain ulos di Belgia. “Kami sebenernya mau buka pasar, kan di Belgia itu adalah negara fashion, di situ ada sekolah fashion yang terkenal, kalau nggak salah namanya Royal Academy Fashion,” papar dia.

Romy berkeinginan meningkatkan nama kain ulos yang menjadi ciri khas masyarakat Batak. Dia juga mulai berinovasi dengan membuat kain ulos yang ramah lingkungan.

Kain ulos ramah lingkungan ini ia perkenalkan saat menjadi pembicara dalam acara Next Generousion bertema Eco Fashion Indonesia, di Epiwalk, Jakarta Selatan, Minggu (3/11).

Tema Eco Fashion yang diangkat dalam acara Next Generousion senada dengan keinginan Romy saat didapuk menjadi ketua Dekranasda Kabupaten Dairi. Eco Fashion atau fashion yang ramah lingkungan dirasa sangat cocok dengan generasi milenial yang senang berkreasi di bidang fesyen.

Menurut istri Eddy KA Berutu tersebut, kain ulos yang ia bawa ke acara tersebut menggunakan pewarna alami. Misalnya untuk warna kuning, ia menggabungkan kunyit dan jeruk purut yang diaplikasikan ke kain ulos inovasinya.

“Jadi kita pakai kunyit untuk pewarnanya. Tapi kan itu akan kuning sekali warnanya jadi kita gabung dengan jeruk purut, sehingga warnanya tidak terlalu mencolok,” jelas dia sambil menunjukkan kain ulos warna kuning yang dibawanya.

Begitu juga untuk mendapatkan warna gelap, biasa ia dapat dari dedaunan. “Kemudian kita pakai daun-daunan sekitar Silalahi, kalau mau hitam pakai daun ketapang, kalau biru pakai tayub, jadi pakai pewarna alam,” ujarnya.

Ia mengatakan pembuatan ulos Eco Fashion jauh lebih cepat dibanding ulos biasanya. Untuk sebuah ulos Eco Fashion hanya membutuhkan waktu dua hari. “Kalau yang Eco Fashion ini satu penenun bisa selesaikan dua hari, lebih cepat memang. Kalau ulos yang biasanya lebih lama,” paparnya.

Ulos yang dibuat dengan Eco Fashion tersebut lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan pewarna tekstil yang bisa mencemari sungai sekitar. “Kita mulai mengarah ke Eco Fashion dan ramah lingkungan, jadi lebih manusiawi lah. Karena kalau saya lihat pewarna ulos itu bisa mencemarkan air di sekitar kita,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Merdi Sihombing, selaku CEO Eco Fashion Indonesia melalui keterangn tertulisnya mengatakan. “Produk fesyen yang ramah lingkungan beberapa tahun belakangan ini mendapat perhatian yang cukup besar dari anak muda di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Produk fesyen dengan warna alam misalnya, mulai banyak dipakai anak-anak muda. Mereka juga suka membeli produk lokal made in Indonesia.” (Jeh)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *