“Mau Jadi Apa?”
Film Komedi Situasi yang Cerdas dan Komunikatif

PRODUKSI: Starvision & Millennia; PRODUSER: Chand Parwez Servia & Gangsar Sukrisno; SUTRADARA: Monty Tiwa & Soleh Solihun; SKENARIO: Soleh Solihun, Agasyah Karim, Khalid Kashogi; PENATA KAMERA: Rollie Markiano: PENATA ARTISTIK: Tepan Kobain, Angga Bocel: PENYUNTING GAMBAR: Ryan Purwoko; PENATA MUSIK: Andhika Triyadi: PENATA SUARA: Khikmawan Santosa, Syamsurrijal; PEMAIN: Soleh Solihun, Boris Bokir, Adjisdoaibu, Awwe, Anggika Bolsterli, Ricky Wattimena, Ronal Surapraja, Aurelie Moeremans, dan lain-lain.

Idealnya film harus memiliki dua kegunaan, mendidik dan menghibur. Begitulah yang dituntut oleh penonton film di mana pun berada. Menjawab adanya tuntutan seperti itu,  film  “Mau Jadi Apa?”, film bergenre komedi dan berjenis komidi situasi ini, dapat dikatakan merupakan gambaran dari film yang memiliki dua kegunaan tersebut.

Film “Mau Jadi Apa?” tampaknya juga merupakan cermin pandangan hidup dari para mahasiswa yang optimistis. Mereka adalah “enam sekawan” mahasiswa yang memandang segala kesulitan tidak dari sudut yang serba gelap, melainkan dari sudut yang menggembirakan, humoritis.

Membuat banyak orang tertawa sepontan secara kolektif memang tidak mudah. Sebab menggelitik emosi orang lain untuk dapat tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal, atau hanya tersenyum simpul saja, diperlukan pemikiran secara matang serta tindakan yang tepat.

Dan pada kenyaaannya, film “Mau Jadi Apa?” di sana-sini, sepanjang durasi film, telah mampu membuat penonton tidak saja tertawa sepontan, tetapi juga terbahak-bahak. Tidak hanya itu, pada beberapa bagian, film ini juga mampu menumbuhkan rasa haru penonton, karena simpati terhadap “persoalan serius” yang melingkupi para tokoh film ini. Itulah yang diperoleh setelah menonton film “Mau Jadi Apa?”.

Walaupun bercerita tentang kehidupan mahasiswa di dalam dan di luar kampus di tahun 1997, tetapi menjadi menarik, karena berbagai masalah pribadi yang bisa dialami oleh siapa pun – –  baik yang alumnus kampus maupun mereka yang mungkin tidak pernah bersentuhan dengan kegiatan kampus – – relevan dengan suasana kekinian. Tentang kehidupan sehari-hari generasi muda “Zaman Now” saat ini.

Diceritakan, di tahun 1997 Soleh Solihun berhasil masuk Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat. Namun kondisi kampus yang gersang dan lokasinya yang jauh dari mana-mana, membuat Soleh jadi meragukan pilihannya. “Ngapaian sih gue di sini? Mau jadi apa nantinya?”. Bergolak dalam hati Soleh.

Bersama teman-temannya yang sama galaunya – – Lukman (Boris Bokir) si jago gambar; Marsyel (Adjisdoaibu), si hopeless romantic yang selalu sial;  Eko (Awwe), si penggila music yang doyan nyela; Fey (Anggika Bolsterli), si blesteran yang cantik namun sedikit gila, serta si mulut besar, Syarif (Ricky Wattimena) – – Soleh akhirnya mendirikan sebuah majalah kampus alternative. Mengangkat hal-hal ringan, seperti musik, film, olahraga, dan gosip percintaan antarmahasiswa, majalah itu mereka beri nama “Karung Goni”, kependekan dari “Kabar, Ungkapan, Gosip dan Opini”.

Mengelola “Karung Goni” tidaklah mudah. Soleh dan gengnya harus menghadapi cibiran dari anak-anak “Fakta Jatinangor”, majalah super serius yang lebih mendominasi kampus, dipimpin oleh si arogan Panji (Ronal Surapraja). Bersamaan dengan itu, Soleh juga harus berjuang merebut hati Ros (Aurelie Moeremans), Slanker cantik yang telah membuatnya mabuk kepayang, sejak Ospek.

Dengan inti cerita seperti itu, Soleh Solihun, Agasyah Karim, dan Khalid Kashogi; menulis skenario “Mau Jadi Apa?” berstruktur dramaturgi yang sederhana, cenderung linier, tetapi dalam kesederhanaan itu muncul suasana  tegang, haru, sedih, gembira, dan  humor. Jadilah “Mau Jadi Apa? sebagai film komedi situasi yang lengkap dan penuh warna.

Selain itu, muncul juga “kejutan” bagi penonton, sehingga terjadilah “salah duga” penonton terhadap beberapa tokoh, pada menjelang dan di akhir cerita.

Melalui bahasa tubuh serta dialog yang tidak bertele-tele, hampir seluruh pemain film “Mau Jadi Apa?”, menunjukkan kemampuan mereka dalam memerankan masing-masing karakter tokohnya. Soleh Solihun dan beberapa lawan mainnya terkesan sering melakukan improvisasi yang imbang, sehingga irama permainan tidak berat sebelah. Ditambah dengan kemunculan tokoh Soleh Solihun yang seolah melakukan reportase pada beberapa adegan, makin lengkaplah film “Mau Jadi Apa?” sebagai film komedi situasi yang cerdas dan komunikatif.

(hs; foto ist

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *