Hujan Bulan Juni, Dari Puisi ke Layar Lebar

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan di serap akar pohon bunga itu 

 

JAKARTA, MF – Hujan Bulan Juni, bait puisi Sapardi Djoko Damono, satu dari sekian ratus puisi karyanya yang paling populer dan pertama dipublikasikan di surat kabar tahun 1989. Sapardi yang lahir di Sala, 20 Maret 1940 silam, tidak hanya menulis puisi, bahkan pernah menjadi redaktur puisi pada majalah kebudayaan Basis dan kemudian Horison. Di saat lain ia juga menulis novel, maka tidak heranlah bila puisi Hujan Bulan Juni kemudian dijadikannya dalam bentuk  Novel Trilogy.

 

Hujan Bulan Juni merupakan karya Sapardi Djoko Damono yang paling komplet mengalami metamorfosis. Semula dari karya Puisi, lalu menjadi Lagu, menjadi Komik, menjadi Novel, lalu kini ‘Menjadi Film Cerita Panjang’ (mengambil istilah penjurian FFI 2017, red).

 

Disutradarai Reni Nurcahyo Hestu Saputra dan skenarionya ditulis Titien Wattimena, Film Hujan Bulan Juni di ekspektasikan penggarapannya oleh para pencinta  film Indonesia yang juga menyukai puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono seperti memiliki kedalaman pada makna arti puisi Sapardi, yang tercermin pada alur cerita serta peran yang dimainkan oleh tokoh-tokohnya pada film ini. Dan Hujan Bulan Juni menjadi film ketujuh besutan Hestu.

 

Mengisahkan tentang Cinta dan perbedaan, atau seperti halnya pernikahan didalam sebuah keyakinan yang berbeda. Ada yang menyatu namun seperti ada yang memisahkan. Ingin berbicara tapi tenggorokan seperti tercekat. Seperti rasa yang tercipta dalam setiap larik-larik puisi Hujan Bulan Juni. Pingkan yang diperankan Velove Vexia, etnis Manado (Minahasa) beragama Nasrani dan tokoh Sarwono, yang diperankan Adipati Dolken, seorang dosen muda asal Sala yang rajin sholat lima waktunya. Film Hujan Bulan Juni memainkan simbol-simbol dalam setiap adegan peristiwanya dengan soft and light.

 

Pingkan dan Sarwono akhirnya tidak kesampaian menikah. Sarwono yang perokok berat dengan sakit paru-paru yang parah, akhirnya meninggal dunia. Tapi  cinta mereka abadi, karena Apa itu Cinta yang mereka cari selama itu tak dijumpainya dan yang ada hanya ‘kasih sayang’. Ending film yang mengharubiru.

 

“Mereka menggarap Hujan Bulan Juni dengan pandangan, imaji dan kreasi yang kekinian. Pemindahan wujud, termasuk pemindahan kisah masih bisa dimaklumi. Skenario Film Hujan Bulan Juni telah menjadi titik pertemuan sekaligus titik perpisahan antara sastra dan film.”, ungkap Sapardi Djoko Damono saat ditemui dengan senyum penuh makna.

 

(sanatawnee; foto ist

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *