15 Minikino Open December, Dihadiri Filmaker Putu Kusuma dan Kiki Febriyanti

 

Denpasar,-

 

15 Minikino Open December, baru usai dihelat di Mini Hall Irama Indah, Jl. Diponegoro 114, Denpasar, Bali. Perhelatan yang berlangsung meriah dalam suasana akrab ini bersifat terbuka untuk umum, baik itu filmmaker ataupun juga untuk masyarakat yang hanya ingin menonton.. Dan kejutan yang menyenangkan tahun ini hadirnya beberapa pembuat film dari luar kota  seperti  Putu Kusuma Wijaya yang khusus datang dari Singaraja, Buleleng dan juga filmmaker Kiki Febriyanti yang terkenal sangat aktif dengan karya-karya film dokumenter Indonesia bahkan Internasional. Dalam kesempatan ini Kiki Febriyanti menyertakan film pendek eksperimentalnya, berjudul “The Ice Cream Killer”, berdurasi 5 menit.

 

15 Minikino Open December, terdaftar 7 karya film dengan tema yang sangat beragam. Karya film yang durasinya paling pendek tahun ini adalah “Make Up Friend” yang berdurasi 15 detik, disutradarai Agung Yudha, yang juga dikenal sebagai musisi, vokalis utama grup band MR.HIT. Karya film Agung Yudha pernah terpilih untuk ikut didistribusikan dalam program tahunan film pendek INDONESIA RAJA 2015 BALI, ikut berkeliling dan ditayangkan di berbagai kota di seluruh Indonesia.

 

Pemutaran film dibuka N. L. Putu Oktavia Purnama Sari dan setiap film selalu diawali dengan perkenalan singkat dari yang mendaftarkannya. Beberapa film dibawa oleh surtradaranya, namun ada juga yang dibawa oleh produser atau editor film tersebut. Setelah semua film selesai diputar, semua pendaftar film kemudian diundang untuk maju, duduk bersama dalam sebuah panel diskusi. Satu-persatu kemudian bercerita tentang latar belakang filmnya masing-masing, serta menjawab tanggapan dari penonton.

 

Diantaranya Irfan Thamrin yang hadir membawa film berjudul “Gara-gara Akik” ternyata belum lama berdomisili ke Bali. Dalam acara ini ia merasa senang bisa berkenalan dengan para pembuat film pendek di Bali. Dengan bersemangat, Irfan membeberkan latar belakang produksi filmnya yang dibuat bersama komunitas yang dibentuk bersama teman-temannya di Bandung. Dalam film ini, Irfan bertindak sebagai produser.

 

Perhatian penonton juga banyak yang tertarik kepada karya Putu Kusuma Wijaya yang berjudul “Pintu Tertutup”. Sebuah karya dokumenter dengan latar belakang lokasi di Buleleng dan negeri Belanda. Karena durasinya yang paling panjang diantara film-film lainnya, film ini menjadi urutan tayang yang terakhir. Walaupun telah ditegaskan oleh Putu Kusuma Wijaya bahwa ini adalah karya yang belum selesai, namun hal ini ternyata sama sekali tidak mengurangi antusiasme penonton. Bahkan film “Pintu Tertutup” mendapatkan suara penonton terbanyak sebagai film pilihan terbaik.

 

Minikino Open December, sesuai namanya, dilakukan di akhir tahun, bertujuan untuk mempromosikan pertukaran dan jaringan. Jaringan kerja yang terbentuk tidak sekedar antara pembuat film, namun juga mempertemukan mereka dengan penonton umum. Sepanjang sejarahnya, beberapa kelompok film terpicu oleh para pembuat film yang kebetulan bertemu sebagai penonton dalam acara ini dan juga kegiatan rutin pemutaran dan diskusi film pendek Minikino lainnya.

 

(tjo; foto dok

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *